Ilmu Sejarah

Selasa, 13 Oktober 2009

Sebagai ilmu, sejarah terikat pada prosedur penelitian ilmiah. Penelitian ilmiah merupakan sumber dan upaya pengembangan ilmu. Sejarah, karenanya, juga terikat pada penalaran (reasoning) yang mendasarkan diri pada fakta. Dalam sejarah dibedakan antara konsep data dan konsep fakta. Fakta adalah data-data yang telah teruji kebenarannya melalui uji (kritik) sumber. Fakta-fakta inilah yang jadi andalan bagi kebenaran sejarah. Untuk memperoleh kebenaran sejarah, jadi, akan banyak bergantung pada kesediaan para sejarawan untuk meneliti dan mengkaji sumber sejarah secara cermat dan tuntas, sehingga diharapkan mampu mengungkap sejarah dengan objektif (mendekati objektif). Hasil final yang diharapkan ialah adanya kesesuaian (korespondensi) antara pemahaman (interpretasi dan historiografi) sejarawan dengan fakta.
Sebagai ilmu, sejarah memiliki ciri-ciri (Kuntowijoyo, 1995) sebagai berikut) :
(1) Bersifat empirik.
Sejarah termasuk juga pada ilmu-ilmu empirik. Artinya sejarahpun mendasarkan diri pada pengamatan serta pengalaman manusia. Memang harus diakui bahwa pengamatan sejarah tidak mungkin dilakukan secara langsung ( Nugent, 1967 : 160 ) terhadap objeknya seperti halnya pada ilmu-ilmu alam. Objek ilmu sejarah adalah masa lampau. Masa lampau itu sendiri sudah tidak lagi dapat diamati dan dialami lagi, karena memang sudah lampau dan hilang ditelan waktu. Yang masih dapat diamati dalam sejarah adalah peninggalan-peninggalan yang masih tersisa, bukti-bukti serta kesaksian dari para pelaku sejarah.
(2) Objek sejarah adalah masa lampau.
Waktu menjadi objek ilmu sejarah. Berbeda dengan ilmu-ilmu sosial yang berupaya memahami perilaku manusia di waktu sekarang, maka ilmu sejarah lebih berusaha untuk memahami perilaku manusia di waktu lampau. Jika ilmu-ilmu alam membahas tentang waktu, waktu yang dibahas adalah waktu fisik. Waktu fisik adalah waktu objektif, waktu yang terjadi dalam alam. Waktu yang dikaji dalam sejarah adalah waktu subjektif, ialah waktu yang dialami dan dirasakan oleh manusia. Makna waktu bagi manusia tergantung relasinya terhadap dirinya.

(3) Sejarah memiliki metode tersendiri, ialah metode sejarah.
Metode yang digunakan dalam sejarah adalah metode sejarah. Dengan metode sejarah itulah akan dikaji keaslian sumber data sejarah, kebenaran informasi sejarah, serta bagaimana dilakukan interpretasi dan inferensi terhadap sumber data sejarah tersebut.

(4) Sejarah memiliki teori-teori dan konsep-konsep sendiri.
Sejarah memiliki teori ilmu pengetahuan (epistemology) sendiri yang memberikan dasar-dasar bagi kaidah-kaidah ilmu sejarah. Sejarah memiliki teori-teori tersendiri mengenai kebenaran, objektivitas, subjektivitas, generalisasi dan hukum sejarah. Sejarah sebagai ilmu telah memiliki tradisi yang tua lagi panjang.Tiap kurun zaman berkembang pula fiulsafat sejarah tersendiri.

Louis Gottschalk (1987 : 18) menyimpulkan bahwa prosedur penelitian dan penulisan sejarah bertumpu pada 4 (empat) kegiatan pokok, ialah :
(1) Pengumpulan objek yang berasal dari suatu zaman dan pengumpulan bahan-bahan tertulis dan lisan yang relevan.
(2) Menyingkirkan bahan-bahan yang tidak otentik.
(3) Menyimpulkan kesaksian yang dapat dipercaya dari bahan-bahan yang otentik.
(4) Penytusunan kesaksian yang dapat dipercaya itu menjadi suatu kisah atau suatu penyajian yang berarti.

Prosedur itulah yang disebut metode sejarah. Sesuai dengan langkah-langkah yang diambil dalam keseluruhan prosedur, metode sejarah biasanya dibagi atas 4 (empat) kelompok kegiatan, yakni :
(1) Heuristik : kegiatan menghimpun sumber-sumber sejarah.
(2) Kritik (verifikasi) : meneliti apakah sumber-sumber itu sejati, baik bentuk maupun isinya.
(3) Interpretasi : menetapkan makna dan saling hubungan dari fakta-fakta yang telah diverifikasi.
(4) Historiografi : penyajian hasil sintesis yang diperoleh dalam bentuk kisah sejarah.

Keempat langkah metode penelitian dan penulisan sejarah tersebut melalui uji dan analisis yang ketat dan kritis. Itulah sebabnya maka metode sejarah tersebut secara lebih lengkap dinamakan sebagai metode sejarah kritis.

0 komentar:

Poskan Komentar