Perjanjian Tordesillas

Kamis, 06 Oktober 2016

Perjanjian Tordesillas adalah perjanjian yang dibuat antara Portugal dan Spanyol pada tahun 1494 di sebuah kota di Spanyol yang bernama Tordesillas. Perjanjian tersebut dibuat untuk menengahi konflik yang terjadi antara kedua negara setelah Paus Alexander VI, yang kelahiran Spanyol, membuat sebuah garis demarkasi untuk bagi-bagi wilayah pada tahun 1493.

Lha ini semua gara-garanya dimulai oleh “penemuan” Benua Amerika oleh Columbus pada tahun 1492. Columbus yang kembali pada tahun 1493 lantas mendatangi Paus Alexander VI yang pada masa itu bertindak sebagai wasit dalam segala hal di Eropa. Paus Alexander lantas mengeluarkan keputusan bahwa semua tanah-tanah baru yang ditemukan di sebelah Barat garis bujur yang terletak sekitar 300 mil laut dari kepulauan Cape Verde merupakan hak Spanyol, sedang di Timur garis itu menjadi milik Portugal.
Raja Portugal yang ndak puas dengan keputusan itu lantas mengajak Raja Ferdinand dan Ratu Isabella dari Spanyol untuk rundingan agar garis bujurnya tadi bisa digeser sedikitlah, biar Portugal juga bisa dapat lahan di benua baru tersebut. Akhir dari runding-runding itulah yang menghasilkan Perjanjian Tordesillas yang menggeser garis tersebut lebih ke arah Barat. Sehingga Portugal bisa mendapatkan hak atas wilayah di sebelah Timur benua baru tersebut yang sekarang merupakan wilayah negara Brazil. Ini juga bisa dipakai untuk menjelaskan mengapa di Amreka Selatan hanya Brazil yang menggunakan Bahasa Portugis sedang lainnya memakai Bahasa Spanyol. Vatikan sendiri, melalui Paus Julius II, baru mengakui perjanjian tersebut pada tahun 1506.
Jika saja bumi itu rata ndak berbentuk bola, masalahnya bisa selesai sampai di situ. Hanya saja bundernya bumi dan adanya keinginan untuk menguasai sumber rempah-rempah di Maluku bikin runyam cerita selanjutnya. Kapal-kapal Portugis akhirnya bisa sampai duluan di Maluku pada tahun 1512 di bawah pimpinan Antonio d’Abreu. Akan tetapi kemudian Ferdinan Magellan yang sebenarnya orang Portugis tetapi membelot ke Spanyol berhasil mencapai Philippina pada tahun 1521 dengan kapal-kapal berbendera Spanyol. Magellan juga mengatakan bahwa Maluku yang merupakan sumber rempah-rempah itu ada di bagian wilayah miliknya Spanyol. Nah lo, gara-gara baru ini.
Akhirnya setelah eker-ekeran ndak karu-karuan sebuah perjanjian baru dibuat, Perjanjian Zaragoza yang ditanda tangani pada tahun 1529. Intinya pada perjanjian ini bumi dibagi dua dengan garis pembagi menggunakan bujur dari Perjanjian Tordesillas yang diputer kumplit mengelilingi bumi. Berdasarkan perjanjian ini Maluku dan tanah-tanah lain di sebelah Barat Samudra Pasifik dimiliki oleh Spanyol akan tetapi Spanyol mau melepas klaim atas Maluku dan memberikannya kepada Portugal dengan bayaran 350.000 dukat emas.
Garis batas bagi-bagi bumi ini dalam kenyataannya tidak ditaati secara apa adanya. Spanyol masih mengangkangi Philippina, toh Portugal juga ndak berkeberatan karena ndak ada rempah-rempah di Philippina.
Acara bagi-bagi bumi jaman dahulu ini pengaruhnya masih tersisa hingga kini. Lihat saja kebudayaan di Amerika Selatan dan Philippina yang terpengaruh Spanyol, sementara Portugal meninggalkan pengaruh di Brazil, beberapa negara Afrika, Timor Leste dan Maluku.
Lha kok enak bumi dibagi-bagi buat dua negara itu saja? Pada jaman itu dua negara itulah yang boleh berjuluk super power dunia. Itu yang namanya penghuni asli cuma boleh nurut, kalau ndak ya dibedil. Inca, Aztec dan Maya di Amerika Tengah dan Selatan luluh lantak karena mesiu dan penyakit seperti sipilis dan cacar yang dibawa oleh orang-orang Spanyol. Sementara wilayah yang dikangkangi Portugis didera kemiskinan hebat.
Sekarangpun walau lebih samar bentuknya, pembagian dunia masih berlangsung dengan dahsyat. Hanya saja, kalau dulu para super power itu mencari restu dan dukungan dari kalangan agama, para super power masa kini mencari dukungan dari para pedagang.



Hiburan Masa Lalu dan Tradisi Lokal; Kumpulan Esai Seni, Budaya, dan Sejarah : Resensi

Rabu, 26 Oktober 2011

Seberapa penting pengetahuan kita terhadap kesenian, kebudayaan, dan sejarah bangsa sendiri yang kaya raya? Seberapa peduli kita menjaga hasil seni, budaya, dan sejarah kita itu? Maka, tak perlu ragukan lagi jika ada ungkapan usang,”tak kenal maka tak sayang”. Bagaimana kita mau menjaganya jika kenal pun kita tidak. Usaha pengenalan seni, budaya, dan sejarah Indonesia tadi diusahakan secara sederhana dalam buku kumpulan esai karya Fandy Hutari berjudul Hiburan Masa Lalu dan Tradisi Lokal.

Buku Hiburan Masa Lalu dan Tradisi Lokal bisa dibilang merupakan sajian rekaman soal beberapa seni, budaya, dan sejarah yang ada di negeri ini. Berisi 26 artikel yang dibagi ke dalam lima bagian utama. Sebagian besar esai pada buku ini tentang seni pertunjukan, dari mulai masih berbentuk sandiwara, film bisu, hingga film modern seperti sekarang. Sebagian yang lainnya (dalam porsi yang lebih kecil) adalah tentang seni tradisi lokal yang sudah hampir punah, seperti kuda renggong, sintren, cikeruhan, dan lain-lain. Tradisi lokal ini merupakan jenis tradisi warisan leluhur yang sebagian masih dilakukan dengan ketentuan asli, perubahan atau variasi, dan bahkan telah dilupakan sama sekali. Ada juga tradisi di luar itu, misalnya panjat pinang, topeng monyet, gasing, dan lain-lain. Hampir semua seni, budaya, maupun sejarah yang disampaikan dalam naskah ini adalah yang berasal dari tanah Sunda (Jawa Barat). Itu karena penulisnya sangat kagum dengan tradisi Sunda. Di samping itu, ada beberapa riwayat orang-orang yang patut saya masukkan juga ke buku ini, karena ada “sentuhan” mereka terhadap sejarah, seni, dan budaya.

Terkadang kita terlambat untuk mencintai hasil karya bangsa sendiri, dan baru marah-marah ketika bangsa lain mengklaim atau mengaku-aku seni dan budaya kita sebagai produk bangsanya. Maka, cukup bijak kalau setidaknya kita kenali dulu seni, budaya, dan sejarah kita, baru protes kalau merasa produk-produk tadi “dimaling” orang. Buku Fandy ini merupakan hasil seleksi artikel-artikelnya yang tersebar di media massa, baik cetak maupun online dari tahun 2008 sampai 2010. Bisa dikatakan, buku ini semacam “pengawetan” tulisan dengan bahasa yang ringan mengenai sesuatu yang begitu dekat dengan kita, tapi cenderung kita lupa: seni, budaya, dan sejarah

Judul : Hiburan Masa Lalu dan Tradisi Lokal; Kumpulan Esai Seni, Budaya, dan Sejarah Indonesia.
Penulis : Fandy Hutari Penerbit : INSISTPress, Yogyakarta Tebal : xiv + 162 Cetakan : I, April 2011
Oleh: Kasanwikrama